Distorsi makna koalisi strategis
Poros tengah jilid II gagasan Din Syamsudin
Oleh gustrivoni
Mahasiswa international program of Ushuludin IAIN Imam Bonjol
Gagasan koalisi strategis di antara partai-partai islam dan berbasis islam dalam persoalan strategis bangsa mengalami distorsi makna, Frof.Dr. Din syamsudin (ketua umum PP muhammadiyah) mengatakan, koalisi itu bukan poros tengah tetapi dapat di pakai sebagai salah satu istilah makna lain, partai-partai islam terkesan berbeda satu sama lain, padahal sama-sama mengaitkan dengan islam sebagai akibat nya umat islam lapis bawah bingung dan terpecah.
Menurut pandangan din syamsudin koalisi itu sebenar nya merupakan realisasi ukhwah islamiah dan silaturahmi dalam kehidupan politik untuk memudahkan komunikasi dengan lingkaran-lingkaran politik lain dalam rangka membangun simpul lingkaran kebangsaan yang di perlukan Indonesia, koalisi strategis juga untuk memudahkan pencairan di kotomi politik nasionalis VS islam yang sudah tercipta sejak dahulu dan masih ada dengan terciptanya partai-partai islam dewasa ini, yang inti nya dari gagasan Din Syamsudin koalisi berjangka panjang sebagai pola hubungan antara partai-partai islam dan berbasis masa islam tanpa harus melebur ekstensi mereka.
Jikalau kita perhatikan Ajakan Din Syamsudin merupakan ajakan moral, tegas nya ia mengatakan hanya partai yang tidak mau mengamalkan ajaran ukhwah dan silaturahmi yang menolak ajakan ini karena egoisme kepartaian dan politisi yang di belenggu egois sektoral kelompok namun segenap politisi partai islam menyisakan pertanyaan dan meragukan atas ajakan tersebut, apakah ada maksud potitik tertentu di balik berkembangnya wacana itu , karena Din Syamsudin juga diisukan akan maju bertarung pada pemilu 2009 sebagai kandidat presiden merebut RI 1.
Di antaranya Ketua Umum Dewan syuro PKB KH.Abdurrahman Wahid (Gusdur) menilai koalisi itu tidak perlu, malahan gusdur menuding Din syamsudin, Hasyim Muzadi dan Hidayat Nurwahid punya kepentingan di balik berkembangnya wacana itu, lain hal nya menurut Tifatul Sembiring presiden PKS, ia mengatakan saat ini tidak ada kebutuhan politik sebagai yang di wacanakan itu, sebab itu ia mengatakan pembentukan poros tengah menjadi percuma tidak penting, Tifatul menambahkan partai berbasis islam sulit di persatukan, pasalnya masing-masing parpol islam memiliki aliran yang berlainan. Namun Direktur Eksekutif Indo Barometer M.Qadri mengatakan PKS lah yang lebih mungkin mengadakan poros tengah, karena PKS memiliki suara yang cukup signifikan dan memiliki tokoh yang layak ujarnya Hidayat Nurwahid.
PBR juga tidak tertarik dengan wacana poros tengah sebagaimana yang dikemukan oleh para elit polotik islam sebelumnya, Bursah Zarnubi ketua Umum PBR mengatakan koalisi poros tengah ala Din hanya koalisi simbolis, padahal menurutnya masyarakat saat ini sudah tidak memerlukan simbol-simbol islam dan nasionalis. Meskipun juga ada partai islam lain nya yang menyambut baik wacana poros tengah itu seperti PPP dan PBB yang menganggap ajakan Din Syamsudin itu benar-benar ajakan moral dan silaturrahmi di kalangan elit politik islam.
Sebenarnya kalau kita tarik sejarah kebelakang, strategi poros tengah bukan bukanlah gagasan yang pertama kalinya, justru Pada pemilu Tahun 1999 Amin Rais telah berhasil mengadakan Poros Tengah untuk mencairkan pertentangan antara Megawati dan Habibi atau PDIP dan Golkar, sehingga membendung megawati melaju menjadi presiden pada sidang umum MPR dan Abdurrahman Wahid alias Gusdur berhasil menjadi presiden RI ke-empat.
Sebagaimana yang di sampaikan pengamat politik dari UI Arbin Sanit melihat kondisi politik di tahun 1999 berbeda dengan tahun 2009, di tahun 1999 poros tengah untuk membendung megawati, bahkan Arbi sanit menghawatirkan koalisi poros tengah ini akan menimbulkan potensi bahaya bagi negara, di takutkan golongan islam radikal akan mencoba merebut kekeuasaan dengan kenderaan politik, berbedanya situasi dan kepentingan di tahun 1999 dengan 2009 menjadi alasan di kangan politukus untuk menolak wacana strategis bangsa itu.
Dalam dunia politik jikalu kita amati, berujung pada kesimpulan tidak ada teman yang abadi kecuali hanya kepentingan dan begitu juga tidak ada lawan yang abadi jikalau ada kepentingan, sebuah realitas yang dapat kita saksikan di negri ini sering terjadi konflik baik internal dan eksternal partai yang merembah ke berbagai persoalan maupun persoalan komptesi sesama dalam menarik simpati rakyat yang tidak sehat sehingga berbenturan berbagai kepentingan yang tidak bisa di satukan, seni bagaimana mencapai tujuan atau kepentingan tertentu dengan berbagai cara itulah sebenarnya politik .
Sulit untuk menyatukan umat islam apalagi partai politik islam secara khusus karena sarat dengan kepentingan masing-masing partai, dengan muncul banyaknya partai-partai islam membuat masyarakat bingung dan terpecah belah, imbasnya tiap tahun perolehan suara partai-partai islam selalu mengalami penurunan, spadahal mayoritas penduduk
Kita berharap islam tidak selalu di jadikan alasan demi kepentingan politik, sehingga terkesan sebagai topeng di balik kepentingan duniawi sesa’at yang terselubung ,islam tidak di jadikan sebagai alat untuk mendapatkan dukungan dari rakyat dalam mendulang suara di pemilu, islam tidak di jadikan alat untuk mendapat kekuasaan, islam merindukan terjalin ukhwah islamiah yang kuat di kalangan umat nya agar terciptanya kejayaan islam sebagaimana yang telah di capai dimasa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar